Jurnal Kecamatan: Kesambi Kota: Cirebon Provinsi: Jawa Barat

Konser Musik dan Kota Cirebon

Avatar
Written by Iskandar Abeng

28 Desember 2008, Arya Kemuning

Stadion Bima tempat yang nggak asing bagi saya untuk mengingatnya. Sebuah areal lapangan bola yang cukup dikenal oleh masyarakat kota Cirebon. Daerah yang tenang dan sejuk dengan pepohonan yang rindang menghiasi sepanjang jalan menuju stadion itu. Di setiap pagi dan sore aktivitas olahraga selalu terlihat. Apalagi di hari libur seperti hari minggu, Stadion Bima dipadati oleh para penikmat olahraga. Salah satu contohnya senam aerobik  jantung sehat yang selalu diadakan di setiap hari minggu. Saya, Niko, dan beberapa teman lainnya terkadang ikut serta bersenam ria dengan pakaian hitam-hitam bak penari topeng. Ada juga jalan sehat, lari, renang, ataupun olahraga lainnya. Karena di sekeliling area Stadion Bima juga terdapat beberapa sarana olahraga lainnya, seperti  kolam renang, gedung olahraga, gedung merpati putih —untuk latihan karate-silat bahkan sempat disewakan untuk konser musik juga, yang di fungsikan untuk menampung beberapa jenis olahraga lainnya.

Patung Bima di stadion Bima Cirebon

Patung Bima di Stadion Bima Cirebon

Nama Bima sendiri adalah salah satu tokoh dalam cerita pewayangan. Dia punya karakter yang gagah perkasa, jujur, pemberani, dan berwibawa. Dia salah satu anggota Pandawa Lima yang mana dia adalah adik kandung dari Prabu Dharma Kusuma. Di tengah-tengah area olahraga sendiri  berdiri patung Bima yang sedang berkelahi dengan seekor ular raksasa dan letak dari patung  tersebut berada di tengah-tengah kolam. Kenapa ada kolam di bawahnya? Konon pada waktu itu Bima berkelahi dengan ular posisinya berada  di tengah-tengah samudra. Disamping arena olahraga, berdiri juga beberapa bangunan seperti kantor-kantor pemerintah daerah; ada DIKNAS, DEPAG, kantor ARSIP Kota, Dinas Perhubungan, Pemadam Kebakaran, (PU) Pekerjaan Umum, dan lain-lain. Pemerintah Kota Cirebon juga membangung gedung kesenian yang mana diperuntukkan bagi para seniman Cirebon. Gedung kesenian Nyi Mas Rara Santang nama  yang diberikan terhadap gedung ini diambil dari nama seorang ibu sunan, yakni Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Waktu itu tahun 1999, saya sendiri termasuk orang yang sehari-harinya beraktifitas di gedung kesenian. Bahkan selama 6 tahun saya dan teman-teman yang tergabung dalam komunitas Gardu Seni waktu itu —sekarang ini telah berubah menjadi Gardu Unik— selalu membuat acara-acara kesenian.

Di  tahun 2002, saya dan teman-teman dari komunitas Gardu Seni bekerja freelance di sebuah Event Organizer bernama Gerhana Production yang dibawa oleh Pak Arif. Dia seorang seniman seni peran (teater) dan sastrawan. Beberapa acara telah dikerjakan dan berjalan bagus. Salah satu contohnya pesta kembang api dan musik untuk menyambut tahun baru 2003 yang bekerjasama dengan perusahaan rokok. Kerjasama kami selanjutnya yaitu mengadakan event musik cadas (rock) dan sasarannya tertuju pada para musisi rock yang ada di wilayah Cirebon. Jenis eventnya adalah festival rock dengan tema “Stop Perang”. Kenapa temanya demikian? Teman-teman tergugah mengambil tema itu karena melihat kekejaman perang sering yang ditayangkan oleh televisi pada waktu itu. Dengan diketuai oleh Pak Arif dan ketua koordinator lapangan oleh almarhum Agung —Agung adalah sosok teman yang cerdas dan supel— yang ketika itu ia bertugas membuat proposal dan bernegosiasi dengan sponsor.

Para pendaftar sangat banyak hingga pada saat audisi pun masih banyak grup yang ingin mendaftar. Antusias yang besar untuk ikut serta dalam kompetisi itu lantaran ada beberapa hal: yang pertama adalah ingin menjadi band pembuka dalam konser band aliran rock terkenal yakni Jamrud; kedua adalah sebagai ajang kreatifitas anak muda dalam konteks musik di Cirebon. Bahkan ada yang bilang sebagai ajang adu mental dan merasa tergugah oleh tema yang diusung.

Salah satu band pemenang festival musik rock waktu itu adalah Vaksinasi. Kelompok ini menjadi juara 1 dan ditetapkan sebagai band pembuka di konser grup Jamrud. Sekitar 2 minggu mereka menunggu untuk jadi band pembuka. Jamrud akhirnya tiba di Cirebon, suasana Kota Cirebon begitu ramai khususnya di sekitar stadion sepak bola Bima. Para pedagang berjubel mengelilingi wilayah Stadion Bima. Tukang kacang rebus, minuman ringan, ketoprak, jagung rebus, dan masih banyak lagi. Pengunjung  tak kalah ramai. Mereka datang dari beberapa daerah dan sekitar Cirebon seperti Tegal, Indramayu, Losari, Kuningan, Majalengka yang beberapa diantaranya telah datang satu hari sebelum acara dimulai. Kebanyakan  mereka menginap di gedung kesenian.

Harga tiket dijual sekitar Rp 10.000 dan mendapat sebungkus rokok. Sebelum mereka masuk ke area panggung, mereka diperiksa terlebih dahulu oleh panitia dan petugas keamanan di pintu masuk. Petugas keamanan dikerahkan dari beberapa unsur terkait, dari kepolisian, Korem, bahkan polisi militer. Mereka disewa beberapa batalyon oleh pihak EO. Dalam kesempatan itu saya bertugas sebagi koordinator Ring 1 yang dalam pelaksanaanya mengamankan area panggung dan pintu masuk artis.

Grup Band Jamrud

Grup Band Jamrud.

Dalam konser musik rock ini ada perasaan takut juga saat melihat massa penonton yang begitu banyak. Namun saya hilangkan perasaan tersebut dengan melihat adanya pihak keamanan yang siaga di posisinya masing-masing. Yang saya takutkan dalam mengadakan event musik di Cirebon adalah tradisi tawurannya. Suasana semakin ramai dan riuh sekali setelah grup band rock kesayangan mereka tampil di atas panggung dan membawakan lagu-lagu hitsnya. Hingar bingar musik rok yang begitu keras dan menghentak di telinga membuat para massa seperti orang yang kesurupan. Mereka menari sambil bernyanyi mengikuti lirik yang dinyanyikan oleh Krisyanto —vokalis Jamrud.

Acara konser itu sebenarnya dimulai sekitar jam 15.00 karena yang dipakai waktu Indonesia jadi ngaret sekitar 20 menit. Waktu tidak terasa mulai berganti malam. Tiba-tiba terjadi keributan massa. Keributan pertama terjadi pada saat penonton yang tidak mempunyai tiket menyerbu pintu masuk dan meminta panitia memberi kebijakan supaya membuka pintu dan memberikan tiket gratis. Kira-kira 5-6 lagu, pintu masuk akhirnya dibuka dan dibiarkan penonton tidak punya tiket masuk gratis. Suasana di lapangan makin bergemuruh. Debu beterbangan. Hampir 80% lapangan sepak bola itu tertutup penonton.

Konser usai. Penonton pulang. Tapi tak disangka kembali terjadi keributan di jalanan. Keributan itu terjadi lantaran permasalahan individu yang sudah lama terjadi sebelum adanya konser. Akhirnya keributan tak bisa di bendung. Suasana semakin kacau sepanjang jalan bypass Yos Sudarso. Jalan itu dipenuhi massa yang tawuran. Lampu merah yang ada di perempatan jalan pecah. Hingga tragedi yang paling tragis yaitu ditemukan beberapa orang yang terluka bacok, juga meninggal. Apa yang saya takutkan terjadi. Ketua panitia menginformasikan kepada semua panitia yang terlibat dalam konser musik tadi untuk melepas kaos yang di kenakan. Saya yang kebetulan tidak membawa baju ganti akhirnya memutuskan untuk membalik kaos tersebut. Selama  satu bulan kaos panitia tidak dipakai lantaran ada isu bahwa ada orang yang sedang  mencari panitia untuk minta pertanggungjawaban atas kekacauan itu. Padahal panitia dan pihak dari sponsor telah memberikan santunan dan memberi  perawatan bagi mereka yang  terkena sasaran massa konser pada waktu itu.

Setelah adanya kejadian seperti itu masyarakat Cirebon sendiri akhirnya merasa kesepian karena beberapa konser  yang akan singgah ke Kota Cirebon tidak mendapat izin dari pihak pemerintah Kota Cirebon lantaran trauma. Kejadian yang serupa akibat konser musik yang diadakan di kota Cirebon adalah saat konser musik band Padi. Walaupun tidak menelan korban. Beberapa fasilitas massa seperti lampu merah yang berada dekat Stadion Bima banyak yang pecah. Disusul lagi dengan konser grup Sheila on 7 yang benar-benar membuat pemerintah kota bahkan beberapa kalangan masyarakat yang berada di sekeliling Stadion Bima menjadi geram. Lantaran beberapa bangunan yang berada dekat GOR Bima seperti, Gedung Kesenian Nyi Mas Rara Santang, gedung KONI, gedung Pemuda, gedung KORPRI, bahkan beberapa bangunan milik penduduk rusak akibat dilempari oleh massa. Kejadian  ini terjadi akibat pembengkakan massa yang ingin bisa masuk ke dalam GOR namun kapasitas gedung sendiri sudah tidak bisa menampung. Sehingga kemarahan massa dilampiaskan ke para polisi yang waktu itu sedang bertugas. Keributan tak terelakan lagi massa dan polisi saling menyerang. Satu sisi massa menggunakan senjata ala zaman manusia purba yakni batu, sedang pihak kepolisian memakai senjata yang sebenarnya yaitu senapan. Namun polisi mengganti pelurunya dengan peluru karet. Batu berterbangan kemana-kemana sehingga mengenai apa saja yang ada di lokasi tersebut.

Waktu itu saya dan teman-teman sedang berlatih teater di dalam gedung kesenian yang kemudian bubar karena  genteng, jendela, kaca-kaca pintu gedung rusak dan pecah bahkan batu-batu itu mendarat ke ruang dalam. Massa melempari gedung kesenian lantaran pihak kepolisian yang berada di halaman gedung dan teras. Hampir satu jam keributan itu terjadi dan beberapa bangunan yang ada dekat lokasi itu banyak yang hancur. Di samping kerugian dari bentuk material juga kerugian nyawa akibat konser musik itu.

Setelah keributan itu terjadi pemerintah kota memberi larangan keras terhadap apapun bentuknya yang berkaitan dengan konser musik dan bersifat outdoor. Tapi masih diberi kebijakan jika konser tersebut diadakan di dalam ruangan tertutup dan terlihat aman. Kurang lebih tiga tahun lamanya pemberlakukan larangan tersebut oleh pemerintah, kini semua berjalan apa adanya.

About the author

Avatar

Iskandar Abeng

Pria yang menetap di Cirebon ini dilahirkan pada tanggal 8 Mei. Ia memiliki ketertarikan pada karya seni dan budaya.

6 Comments

  • rasanya acara festival rock stop perang itu murni anak2 gardu yang bikin deh…
    rasanya pak arif tidak ikut di event tersebut dan yang jadi ketuanya adalah BABAS bukan agung….
    rasanya festivel rock stop perang itu bukan untk audisi band jamrud deh….
    rasanya festival rock stop perang denga festival audisi jamrud cukup jauh jeda waktunya….
    rasanya…….

  • “GARDU”

    Gedung Kesenian ,,,

    Tari Topeng ,,,

    Gamelan ,,,

    Teater ,,,

    Adakah yang masih banyak ku ingat dari sudut Cirebon ini….

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.